Belekan Ketika UTBK Adalah Neraka Dunia, tetapi Bukan Akhir Segalanya
Sebuah wejangan untuk teman-teman dalam memaknai faktor luar yang tidak bisa kita kontrol.

Belek (rheum) adalah kotoran mata yang berasal dari akumulasi debu, sel kulit mati, atau bahkan benda asing. Sementara itu, belekan merupakan istilah yang menamai gangguan kesehatan mata berupa munculnya belek dalam jumlah tidak wajar.
Belekan disebabkan oleh banyak hal seperti alergi, penyumbatan kelenjar air mata, dan bahkan infeksi virus atau bakteri. Pada umumnya, belekan disertai dengan konjungtivitis (mata merah). Dalam kasus tertentu, belekan juga dapat disertai dengan bintitan.
Belekan menimbulkan sesasi tidak nyaman pada mata. Selain warna mata yang jadi merah, perihnya juga tidak ketulungan. Belum lagi belek yang terkumpul membuat pandangan kabur. Namun, yang paling menyebalkan adalah belekan SANGAT mudah menular.
H-1 UTBK, adik saya bangun dengan mata merah dan berlendir. Ibu saya pun dengan cepat menyimpulkan bahwa ia belekan. Ibu, dengan segera, meluncur ke apotek untuk membeli obat tetes mata. Saya yang mengetahui hal tersebut juga jadi was-was. Amit-amit pas UTBK malah belekan.
Segala cara yang mungkin saya lakukan untuk menghindari kontak fisik dengan adik saya berujung sia-sia. Pada hari itu, kami sekeluarga sudah harus pergi ke Semarang untuk mengantar saya ke rumah saudara. Saya menginap di rumah saudara karena jaraknya yang lebih dekat dari lokasi tes UTBK.
Tak mungkin adik saya ditinggal sendirian. Kalau ditinggal dengan ibu saya pun tak tega pada Ayah yang pulang sendiri. Alhasil dia juga ikut walaupun belekannya masih parah. Kami sekuat tenaga menghindari kontak fisik. Dia pakai kacamata agar cairan matanya tidak menyebar. Namun, pada dasarnya, kami masih dalam satu ruang yang sama — satu mobil.
Singkat cerita, saya sudah “dioper” ke rumah saudara. Menjelang sore hari, keluarga saya pamit. Sampai saat itu, saya masih bersyukur karena tidak ada gejala belekan. Sampai pada pukul lima sore, ada perasaan mengganjal. Tiba-tiba mata saya terasa berat dan kering. Penglihatan saya jadi buram, seperti ada cairan yang menutupi.
Ketika bercermin, mata saya sudah agak merah. Tanpa basa-basi, saya dan saudara menuju apotek terdekat untuk membeli obat tetes mata. Jantung saya sudah dag dig dug. Bagaimana tidak, 12 jam lagi UTBK. Bagi saya, ini sudah tidak lucu. Yang benar saja ujian penentu masa depan terganggu oleh event yang tidak pernah saya duga — bahkan baru muncul di hari itu pula?
Singkat cerita, saya menghabiskan malam itu dengan kencan bersama obat tetes mata dan selembar tisu. Kenapa harus ada tisu? Jujur saja, ketika obat itu menyentuh mata, perihnya bukan main.
Sempat terpikir oleh saya,
“Sialan juga ya, masa usaha berbulan-bulan terpaksa terganggu cuma karena sakit mata, padahal saya juga sudah berusaha menghindarinya.”
Keesokan harinya, mata saya belum juga menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Yang ada saya makin cemas karena beberapa jam lagi sudah harus menatap layar komputer selama tiga jam nonstop. Saya cuma bisa berdoa kepada Tuhan agar diberi jalan terbaik.
Alhamdulillah, ketika mengerjakan, saya tidak merasakan gangguan berarti. Saya juga sudah “menyeludupkan” selembar tisu untuk mengusap mata saya tiap kali ganti subtes. Mungkin peserta lain menganggap saya menangis karena tak kuat mengerjakan soalnya. Gak salah juga sih…
Selepas ujian, saya buru-buru pulang karena mata saya sudah tidak bisa diajak kerja sama lagi. Saya masih ingat betapa perihnya mata saya ketika saya pertama kali meneteskan obat setelah ujian.
Tujuan saya setelah UTBK adalah pulang lalu tidur sembari mengompres mata. Saya sudah tidak memikirkan soal yang sangat sukar, tidak bisa menjawab salah satu subtes sama sekali, atau takut tidak diterima di universitas impian. Saya cuma mau mata saya sembuh.
Sehari setelah UTBK, kondisi mata saya sudah membaik. Obat tetes mata itu tak terasa menyakitkan lagi. Saya juga sudah bisa berlama-lama menatap layar laptop untuk melanjutkan menulis artikel.
Namun, bukannya bersyukur, saya malah berpikir,
“Bagaimana kalau saya tidak belekan, ya? Apakah saya bisa mendapat hasil yang lebih baik?”
Atau,
“Tuhan, kenapa sih Kamu kasih saya cobaan di waktu yang benar-benar tidak tepat?”
Walaupun hati saya sudah mencoba legawa, pikiran saya belum juga bisa move on. Saya terbayang kemungkinan-kemungkinan — yang barangkali mustahil — apabila saya tidak terkena belekan. Saya masih tidak terima dengan keputusan Tuhan pada waktu itu.
Sampai pada akhirnya, ketika saya berselancar internet untuk mencari teman-teman seperjuangan — orang yang sama-sama memiliki pengalaman dengan faktor luar yang tidak bisa dikontrol. Betapa terkejutnya saya dengan cobaan mereka. Saya merasa cobaan saya ini belum ada apa-apanya.
Ada juga yang sudah jauh-jauh datang ke lokasi UTBK, tetapi tidak bisa mengikuti ujian karena berkasnya tidak lengkap. Ada yang berhalangan mengikuti ujian karena orang tuanya meninggal dunia sehari sebelumnya. Bahkan, ada pula yang meninggal dunia karena mengalami kecelakaan di tengah perjalanan menuju lokasi ujian.
Dalam ranah yang lebih luas, efek faktor tak terkontrol itu jauh lebih gila lagi. Ada yang kehilangan harta seumur hidup karena harga saham hancur. Ada yang gagal menikmati wisuda karena orang tua meninggal di hari-H. Ada yang batal menikah karena sang pasangan meninggal sesaat sebelum hari pernikahan. Dan masih banyak lagi…
Ketika membaca kisah-kisah mereka, saya cuma bisa tertegun. Ternyata banyak orang yang mengalami hal yang sama, bahkan jauh lebih parah. Hebatnya, mereka bisa melewati itu semua dan move on.
Berkat kisah-kisah mereka, saya tersadarkan. Sejatinya, hidup tak lepas dari faktor yang tidak bisa kita kontrol. Bahkan, kalau boleh jujur, satu-satunya hal yang dapat kita kontrol hanyalah diri kita sendiri. Selebihnya, ada kuasa Sang Sutradara yang mengatur jalannya kehidupan.
Dulu, saya selalu ingin mengatur semua yang terjadi di hidup saya. Saya terlalu berpegang teguh pada prinsip total control of everything in my life. Padahal, kita bukanlah makhluk supranatural yang dapat mengatur segalanya. Sebaliknya, kitalah yang diatur.
Tidak ada yang tahu cara mengantisipasi faktor tak terkontrol. Namun, jika berkaca dari kisah orang-orang hebat itu, satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah menerimanya. Menerima dalam artian sadar bahwa kita bukan apa-apa lalu berusaha semaksimal mungkin untuk tetap tegar dan meneruskan hidup. Seperti kata Dory, “Teruslah berenang!”
Dalam keadaan semacam itu, kita hanya punya dua pilihan: fokus pada apa yang bisa kita kontrol atau menyalahkan keadaan. Berdasarkan pengalaman, akan lebih bijak jika kita fokus pada hal yang bisa kita kontrol ketimbang berlarut-larut menangisi hal di luar kendali. Jangan pernah menghindari pengalaman buruk. Sebaliknya, hadapilah.
Apabila ada teman-teman yang sedang mengalaminya, percayalah bahwa kalian tidak sendirian. Semua orang pernah dibuat sebal oleh hal-hal kecil pada peristiwa penting. Saran saya, fokuslah pada diri kalian sendiri. Pilih jalan terbaik yang masih mungkin dilakukan. JANGAN PERNAH sekalipun menyalahkan keadaan atau ragu pada Tuhan.
Walaupun ilmu agama saya cetek, saya percaya bahwa Tuhanlah yang mengatur dan mengorganisasikan semua peristiwa yang terjadi di hidup kita. Kalau dipikir-pikir, hidup sesungguhnya adalah kumpulan hal-hal random yang terjadi secara sistematis, bukan?
“Life is random events happened in divinely correct order,”
Atau mungkin tidak ada yang namanya peristiwa random? Barangkali random adalah ungkapan ketidaktahuan kita pada peristiwa yang sudah pasti terjadi dan kebetulan kita tidak siap menerimanya? Entahlah…
Berkat peristiwa ini pula, saya menyadari korelasi antara doa dengan realita. Tidak ada doa yang direalisasikan demi kesenangan instan sang peminta. Selama ini, saya selalu meminta kepada Tuhan agar diberi “jalan terbaik”. Saya tidak bisa menyalahkan Tuhan jika diberi cobaan seperti demikian. Barangkali inilah yang terbaik bagi saya. Who knows?
Pada akhirnya, pengalaman ini meninggalkan pelajaran yang membekas di hati saya. Tak selamanya hidup berjalan sesuai apa yang kita rencanakan — dan itu tidak masalah sama sekali. Yang terpenting, kita dapat memetik pelajaran berharga dan meneruskan hidup yang bermakna. Dalam kasus saya, belekan adalah neraka dunia, tetapi bukan akhir segalanya.
Raditya, 2022
Pesan Untuk Orang-Orang Terkasih
Bagian ini saya tulis khusus untuk keluarga, saudara, dan teman-teman yang sudah men-support dan mendoakan saya. Sejujurnya, kesembuhan saya tak lepas dari kebaikan kalian. Terima kasih banyak, Bu, Kawan, Dik, Bulik, Om. Kalian yang terbaik!
Saya juga ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila ada saudara atau kawan-kawan yang tertular belekan. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya tidak bermaksud menularkan atau menyebarkan penyakit ini. Apabila ada pembaca yang kebetulan sedang mengalami belekan, saya hanya bisa membantu dengan doa.
Pesan Untuk Pejuang UTBK
Teruntuk kawan-kawan Pejuang UTBK, baik yang mengikuti gelombang dua atau masih tahun depan, ketahuilah bahwa kemalangan bisa saja menimpa pada hari ujian. Namun, jangan pernah berkecil hati. Hadapilah tiap masalah dengan kepala dingin. Jangan buang-buang waktu dan tenaga memikirkan hal-hal yang belum pasti terjadi.
Yang paling penting, jangan pernah merasa sendirian. Masuk perguruan tinggi negeri adalah fase yang dilalui nyaris semua orang. Ada banyak hal tak terduga yang menghiasi perjalanan menggapai impian dan hal tak terduga itu tak cuma terjadi pada kamu saja. Pasti ada yang mengalami hal serupa denganmu. You will never walk alone!